Skip to content

TOUR SOLO YANG SINGKAT NAN BERMANFAAT

Mei 5, 2013

Pada tanggal 2 Mei 2013, saya dan teman-teman kampus melakukan kunjungan ke Solo dalam rangka study tour yang diadakan oleh salah satu mata kuliah Sejarah Ilmu Komunikasi dan Media. Berangkat pada pukul 08.00 WIB menggunakan 2 unit bus. Perjalanan terasa begitu menyenangkan karena petikan gitar yang dimainkan oleh salah seorang teman saya begitu membangkitkan semangat walaupun macet menghadang perjalanan kami sehingga mengakibatkan waktu tempuh perjalanan ini menjadi sedikit melampaui waktu normal. Pukul 10.30 WIB kami tiba di Solo, destinasi pertama dari perjalanan kami adalah Lokananta. Lokananta adalah studio rekaman pertama yang berdiri di Indonesia. Lokananta sendiri memiliki makna gamelan di Suralaya yang berbunyi tanpa penabuh. Di Lokananta kami melakukan diskusi umum untuk mencari tahu sejarah dan apa saja yang ada dalam studio rekaman legendaris ini. Lokananta sudah berdiri dan tidak berpindah tempat sejak 29 Oktober 1956. Lokananta awalnya bagian dari Jawatan RRI, yang bertugas memproduksi piringan hitam guna bahan siaran RRI di seluruh Indonesia. Kini Lokananta menjadi salah satu cabang dari Perum Percetakan Negara. Visi dari Lokananta sebenarnya adalah untuk penyebaran budaya. Lokananta sampai sekarang masih mempunyai koleksi ribuan lagu-lagu daerah dari seluruh Indonesia dan lagu-lagu pop lama termasuk di antaranya lagu-lagu keroncong. Selain itu Lokananta mempunyai koleksi lebih dari 5.000 lagu rekaman daerah bahkan rekaman pidato-pidato kenegaraan Presiden Soekarno. `Pada tahun 1990 Lokananta mengalami kemunduran karena maraknya pembajakan, sekitar 150 an karyawan dari Lokananta di PHK karena tidak ada dana operasional untuk memenuhi kebutuhan karyawan-karyawannya. Bahkan sempat selama 6 bulan karyawan di Lonanta bekerja tanpa mendapatkan gaji. Saat itu kegiatan mereka hanya menjaga aset-aset Lokananta dan membersihkan piringan-piringan hitam bersejarah agar tidak rusak terkena debu. Sungguh sangat memprihatinkan keadaan pada waktu itu. Lokananta tidak mendapat dukungan dana yang memadai dari Pemerintah. Meski demikian kegiatan revording, penggandaan kaset dan remastering masih rutin dilakukan. Untuk bertahan hidup sekarang karyawan mengandalkan jasa rekam lagu-lagu lama, namun tentu saja tidak memadai hasilnya, upaya lain yang dilakukan seperti penyewaan lahan yang kosong kepada pihak luar, mereka sekarang menyewakan lokasinya untuk tempat futsal dan warung soto yang berada di dekat lokasi Lokananta itu sendiri. Hal itu dilakukan untuk menutup biaya operasional dan karyawan Lokananta. Musisi legendaris Indonesia seperti Gesang, Titik Puspa, Waldjinah, Ismail Marzuki, Bubi Chen, Jack Lesmana, Bing Slamet, Idris Sardi pernah melakukan proses rekaman di studio Lokananta. Ribuan master rekaman dari berbagai genre musik Indonesia mulai dari pop, keroncong, tradisional hingga jazz sejak tahun 1950-an hingga era 1980-an tersimpan di Lokananta. Kekayaan musik tradisional bahkan musik folklore ataupun lagu rakyat yang tidak diketahui penciptanya menjadi bagian koleksi Lokananta. Rekaman gending karawitan gubahan dalang kesohor Ki Narto Sabdo, dan karawitan Jawa Surakarta dan Yogya merupakan sebagian dari koleksi yang ada di Lokananta. Glend Fredly juga pernah menggunakan jasa dari Lokananta, selain itu band-band indie seperti Captain Jack dan Efek Rumah Kaca juga ikut andil dalam menggunakan jasa Lokananta, tentu biaya yang di keluarkan untuk band indie mendapatkan tarif yang berbeda daripada tarif untuk artis terkenal. Tour di Solo dilanjutkan ke sebuah tempat makan yang berada di sana. Tempat makan yang dipilih adalah Taman Sari. Teman-teman seakan kesetanan pada saat mengambil makanan yang sudah dihidangkan. Porsi ekstra diambil oleh sebagian besar teman-teman saya karena mereka sangat kelaparan. Destinasi selanjutnya adalah Monumen Pers. Gedung Monumen Pers Nasional yang terletak di Jl. Gajah Mada No. 29 Solo mempunyai cerita sejarah sendiri. Menurut cerita Ibu saya, sebelum menjadi Monumen Pers gedung ini berfungsi sebagai kantor PMI. Di gedung ini pula organisasi profesi kewartanan dibentuk dengan nama PWI ( Persatuan Wartawan Indonesia), pada tanggal 9 Pebruari 1946. Dan di kemudian hari tanggal tersebut ditetepkan sebagai Hari Pers Nasional. Pada awalnya, gedung ini dibangun atas gagasan KGPAA Sri Mangkunegoro VII ( 1918 ) dan dipergunakan untuk gedung pertemuan. Di gedung ini pula pernah menjadi markas besar Palang Merah Indonesia, baru pada tanggal 9 Pebruari 1946, diadakan konferensi wartawan pejuang kemerdekaan Indonesia, yang melahirkan organisasi PWI dengan Mr. Soemanang sebagai ketuanya. Pada peringatan satu (1) dasawarsa PWI, tepatnya pada tanggal 9 Pebruari 1956 kembali muncul ide untuk mendirikan Yayasan Museum Pers Indonesia. Adapun pencetus ide tersebut adalah antara lain B.M Diah, S. Tahsin dan Rosihan Anwar dan pengurusnya adalah R.P Hendro, Kaidono, Sawarno Prodjodikoro, Mr. Soelistyo dan Soebekti dengan modal utama koleksi buku dan majalah milik Soedarjo Tjokrosisworo. Pada saat konggres di Palembang sekitar tahun 1970 baru muncul gagasan untuk mendirikan ” Monumen Pers Nasional”. Dalam peringatan seperempat abad PWI ( 9 Pebruari 1971), Menteri Penerangan Budiardjo menyatakan pendirian Museum Pers Nasional di Solo. Kemudian pada tanggal 31 Desember 1977 tanah dan gedung “societeit” tersebut diserahkan kepada panitia pembangunan Monumen Pers Nasional di bawah Departemen Penerangan RI. Dan atas prakarsa Menteri Penerangan waktu itu, Ali Moetopo yang mendapat dukungan dari Asosiasi Importir Film Kelompok Eropa-AMerika, maka terwujudlah gedung Monumen Pers Nasional yang terdiri dari dua ( 2 ) unit bangunan dengan dua ( 2 ) lantai, dan satu ( 1 ) unit bangunan dengan empat (4) lantai. Baru pada tanggal 9 Pebruari 1978 Presiden Suharto meresmikan gedung tersebut yang dipercayakan kepada Yayasan Pengelola Sarana Pers Nasional untuk mengatur dan mengorganisir fungsi dan pemeliharaan sarana prasaranya. Di dalam museum Monumen Pers Nasional, banyak sekali dokumen-dokumen penting dari jaman penjajahan Belanda, Jepang sampai kemerdekaan Indonesia, mulai dari naskah sampau buku-buku yang jumlahnya lebih dari seribu (1000). Selain itu, di museum ini ada pula alat-alat pers kuno, pemancar radio, koleksi foto bahkan koran dan baju wartawan yang meninggal saat mencari berita juga ada. Misi dari Monumen Pers Nasional itu sendiri adalah mendokumentasikan serta mengkonversi bukti terbit media dan benda bersejarah lingkup pers dari seluruh Indonesia sejak sebelum proklamasi hingga saat ini, mengkomunikasikan dokumen dan koleksi pers nasional yang bernilai sejarah kepada khalayak umum untuk menunjang pembangunan jiwa dan kepribadian bangsa serta mewujudkan objek kunjungan wisata ilmiah bidang pers dan menjadi agen diseminasi serta sebagai media literasi bagi masyarakat. Setelah berkunjung di Monumen pers, tujuan selanjutnya adalah Festival Film Solo di ISI. Hanya kebagian menonton film terakhir yang berjudul ‘Damn it V’ . Film ini sedikit bergenre komedi sebenarnya, karena komedi yang ditampilkan sangat mengundang tawa dari penonton. Sebenarnya ada 3 film yang sedang dilombakan. Namun karena kita mendatang festival ini sudah sangat telat alhasil hanya 1 film yang bisa kami nikmati. Pukul 05.30 rombongan kami meninggalkan kota Solo. Wajah-wajah lelah sudah terlihat sebelum perjalanan pulang. Tetapi itu tidak mengurangi semangat teman-teman, walaupun lelah mereka tetap bernyanyi sepanjang perjalanan pulang itu. Lelah tetapi bahagia, itulah yang mereka rasakan. Berbeda dengan mereka saya memilih untuk tidur di sepanjang perjalanan. Letih sangat saya rasakan di badan saya sehingga tidur menjadi pilihan saya daripada ikut bernyanyi dengan teman-teman. Perjalanan tour ke Solo ini memang bermanfaat bagi kami karena dapat mengetahui sejarah-sejarah media yang berada di Indonesia. Perjalanan yang terasa singkat namun banyak sekali manfaatnya.

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: