Skip to content

THE FREEDOM-KNIGHT RISE (BOB MARLEY)

November 14, 2012

Rabu, 6 Februari 1945 di Kingston, Jamaica,  banyak orang melihat fenomena meteor jatuh, yang menurut keyakinan orang setempat merupakan pertanda bahwa akan lahir seorang tokoh besar. Benar saja, pukul 2.30 dini hari, malam itu Cendella seorang wanita native Jamaican istri dari pengawas tanah perusahaan Crown Land –milik pemerintahan inggris pada masa penjajahannya, Capt. Norval Sinclair Marley, melahirkan anak yang nantinya benar-benar menjadi orang besar. Tak sekedar orang besar saja, anak lelaki yang diberi nama Robert Nasta Marley ini lah yang akan memberikan influence yang besar terhadap sejarah musik dunia. Dia lah biang kerok dari berkembang pesatnya musik reggae di seluruh penjuru dunia serta yang di sebut sebagai King of Reggae, yaitu Bob Marley.

Nama besar Bob Marley berawal dari musik yang diusungnya, Reggae. Kata reggae sendiri berasal dari kata ragged, kata tersebut memiliki arti suatu gerakan menghentakan badan layaknya penggemar reggae yang sedang menikmati alunan musik tersebut.

Musik dengan tempo dan ketukan yang terputus-putus ini tumbuh dari musik yang sudah ada, yaitu Ska yang menjadi elemen style American Rhymes & Blues (R&B) dan musik Caribean[i]. Dengan tambahan pengaruh dari folk music (lagu-lagu rakyat setempat), musik dari gereja Pocomania, Band Jankanoo, upacara-upacara adat para petani, lagu kerja tanam, dan yang terakhir bentuk Mento. Pada akhirnya melahirkan musik yang luar biasa mulai tahun 1960an.

Pada masa awal kelahirannya, musik reagge merupakan bentuk penyampaian pesan yang diungkapkan melalui lirik lagu yang terkait dengan tradisi para penganut keyakinan Rastafarian. Awal mula musik reggae juga merupakan media untuk menyampaikan suara terkait permasalahan sosial, politik, humanistik maupun masalah yan bersifat universal pada masanya[ii]. Permasalahan itu seperti, penderitaan buruh paksa (gheto dweller), perbudakan di Babylon, Haile Selassie dan harapan kembalinya Afrika. Sehingga pada awalnya, musik reggae dapat dikatakan sebagai musik bagi para pemberontak.

Secara historial, pada dasarnya musik Afrika Jamaica ini selalu ada di kehidupan sehari-hari. Baik itu dijalan, bus, tempat umum, rumah, atau tempat bekerja, musik ini menjadi semacam penyemangat saat kondisi yang sulit dan dapat memberikan kekuatan dan pesan tersendiri bagi pendengarnya. Hasilnya, musik reggae tidak sekedar memberikan relaksasi, musik ini juga membawa pesan cinta, perdamaian, persatuan dan keseembangan sehingga dapat mengendurkan ketegangan[iii].

Sepak terjang Bob Marley di dunia reggae sebagai real artist and musician dapat di indikasikan oleh keberhasilannya mengusung musik reggae ke pentas dunia. Dalam musiknya, Bob Marley menambahkan tiga instrumen yang biasa digunakan pada musik Jazz, yaitu horn, saxophone, dan trumpet. Dari situ, Bob Marley melahirkan sub-genre dari reggae yang disebut dengan Roots Reggae[iv].

Secara sistematik dan tematik, sub-genre yang satu ini baik lirik maupun musiknya mendiskripsikan dan membicarakan masalah-masalah yang ada di perkampungan bangsa kulit hitam (ghetto). Lirik dari sub-genre Roots Reggae ini mengutarakan masalah kemiskinan, social issue, perlawanan kepada para rezim-rezim yang menindas rakyat pribumi, deportasi imigran dan filosofi dari keyakinan Rastafari. Bob Marley konsisten mengolah musik, pengaruh dan basic dari lirik lagunya, sehingga pendengar di seluruh dunia dapat menikmati musik reggae[v], sebuah budaya tradisional Jamaica melalui lirik-liriknya.

Bob Marley mampu menunjukan dan memperkenalkan jati diri melalui musik asli tanah kelahirannya. Ia menyuarakan aspirasinya kepada khalayak dunia, dan tak hanya sekedar menyampaikan saja, ia mampu membuat dunia menoleh kepadanya, mengapresiasi karya yang di ciptakannya, dan melihat serta mengambilnya sebagai gerakan perubahan. Idenya berkembang secara luas, tidak tertutup oleh idealismenya saja, tanpa harus terlepas dari akarnya dan menyuarakan sesuatu yang tidak murni dari hatinya.

Ide cemerlang dan brilian dari seorang Bob Marley tidak muncul begitu saja. Sebagai individu, ide cemerlang itu tumbuh dari proses yang ia alami selama hidupnya. Bob Marley yang notabene anak blasteran kulit putih dan negro, semenjak ia terlahir –bahkan ketika ibunya masih mengandungnya, ia harus mengalami kondisi yang memprihatinkan. Sejak kecil Bob Marley sering mendapatkan perlakuan rasis dari orang-orang di sekitarnya. Ia mendapatkan perlakuan rasis ini disebabkan oleh darah campuran yang mengalir dalam darahnya. Ketika sang ayah meninggal dunia, perlakuan rasis yang di terima Bob Marley pun semakin menjadi-jadi[vi].

Sepeninggal ayahnya, ia dan sang ibu ber-hijrah ke kota terbesar di Jamaica, Kingston Trenchtown, di situlah Bob Marley mulai belajar untuk mempertahankan dirinya. Ketika orang-orang menjadikannya sasaran sentimen rasial, Bob Marley pernah berkata, “My father was white, and my mother black, you know. They call me half-caste, or whatever. Well, me don’t dip on nobody’s side. Me don’t dip on the black man’s side or white man’s side. Me dip on God’s side, the one whoe created me cause me to come from black and white, Who give me this talent.”

“One love, one heart. Let’s get toghether and feel all right. Hear the children crying, one love. Hear the children crying, one heart. Sayin, give thank’s and praise to the Lord and I will fell all right. Sayin, let’s get togheter and feel all right.”

Lahirlah lirik tersebut, salah satu lagu dari Bob Marley yang berjudul One Love, People Get Ready. Serba salah memang, Bob Marley ditolak di kalangan kulit hitam karena dianggap putih, namun di kalangan orang kulit putih Bob Marley dihina karena dirinya dianggap hitam. Akhirnya Bob Marley merefleksikan kehidupan pahitnya semasa kecil hingga beranjak remaja, dan kemudian merangkul seluruh dunia untuk senantiasa menyimak kesamaan dan menapikkan adanya perbedaan. Apresiasi yang ditujukan kepada materi-materi yang disuguhkan Bob Marley dapat menjadi tolak ukur sebuah pembeda sesuai konsensus universal yang logis[vii].

Tidak sekedar musik saja, raggae kemudian melahirkan elemen-elemen yang dianggap tidak dapat dipisahkan dari musik ini. Seperti yang dicerminkan oleh Bob Marley sendiri, yaitu kaum Rastafarian; penggunaan warna merah, kuning/emas, rambut gimbal, dan ganja. Keyakinan dan gerakan Rastafarian adalah gerakan agama batu yang mengakui Haile Selasie I –bekas kaisar Ethiopia, sebagai Raja dari segala raja. Gerakan ini muncul atas aspirasi sosial dan politik kulit hitam, yang visi politik dan budayanya ikut menolong menciptakan suatu pandangan dunia yang baru.

Bagi beberapa kalangan, lambang memiliki arti yang mendalam karena merefleksikan sesuatu kepada yang melihatnya[viii]. Sejumlah pakar Ethiopia menyatakan bahwa penggunaan warna merah, kuning/emas, dan hijau di lambangkan sebagai Sabuk Perawan Maria, dan ketiga warna ini sangat identik dengan kaum rastafari. Gerakan ini telah menjamur di berbagai tempat di dunia, penyebarannya melalui imigrasi dan peminatnya muncul akibat musik reggae –kususnya musik Bob Marley, yang telah di baptis dengan nama Berhane Selassie (Cahaya Tritunggal bagi para kaum rastafarian) oleh Gereja Ortodoks Ethiopia sebelum ia meninggal[ix].

Penggunaan cannabis atau ganja oleh Bob Marley serta musisi reggae lainnya juga banyak diikuti oleh para penikmat musik ini. Efek yang ditimbulkan akibat menghisap ganja memang sangat cocok dengan hentakan dan irama musik reggae. Bahkan anggapan bahwa penggunaan cannabis atau ganja adalah suatu ritual yang harus dilakukan oleh para penikmat musik Reggae.

Banyak orang yang memakai dan mengkonsumsi ganja sebagai bukti loyalitas dan menunjukan jati diri sebagai peorang pecinta musik reggae. Jelas bahwa perilaku tersebut tidak dapat dianggap benar, reggae dalam arti yang sebenarnya adalah musik penyampai perdamaian dan sebagai bintang dalam pembebasan dan perjuangan bangsa Afrika dari kolonialisme. Ber-ganja merupakan ritual yang digunakan oleh para kaum Rastafarian, Bob Marley lah yang seorang rastafarian, bukan reggae yang rasta.

Hampir sama seperti ganja, rambut gimbal atau model rambut acak-acakan yang biasa disebut dengan dreadlock ini juga menyebar berbarengan dengan musik reggae. Banyak penggemar Bob Marley yang meniru gaya rambut yang sudah ada sejak 2500 SM ini, karena terkena imbas banyaknya melihat karakter sang idola  atau voyeurisme. Seperti cannabis, dreadlock yang dicerminkan oleh Bob Marley juga merupakan bagian dari ajaran Rastafarian, bukan pengkulturan dari selebriti idolanya.

Wajar bila banyaknya salah kaprah yang terjadi di masyarakat sulit untuk diluruskan kembali. Bob Marley sudah menyebarkan virus reggae nya di seluruh belahan dunia bersama elemen- elemen yang sudah berurat akar di dalamnya; Rastafarian, Cannabis, dan Dreadlock. Sepanjang perjalanan hidup Bob Marley, ia berbicara tentang pengekangan dan penindasan politk; represi, wawasan tetang sesuatu yang ghaib (religius) dan juga tentang semua yang ada; metafisik, serta nilai seni; artistic, serta apa saja yang mengusiknya kemudian menjadikannya sebuah masterpiece melalui musik reggae nya.

“No Women No Cry” selamanya akan menciptakan senyum dari air mata seorang janda, “Exodus” akan selalu melahirkan kesatria, “Redemtion Song” selalu menjadi bukti emansipasi melawan segala penjajahan, “Waiting in Vaint” selalu memunculkan kegairahan, dan “One Love” akan selalu mendobrak segala pembeda dan batas-batas bagi kesatuan kemanusiaan di seluruh dunia[x].

Melalui musik reggae, Bob Marley bukan hanya sekedar musisi yang menyampaikan pesannya melalui harmoni yang ia ciptakan, ia juga menjadi seorang figur moral dan religius[xi]. Maka sisi kesejatian Bob Marley sebagai seniman dan figur moral itulah yang patut dijadikan refleksi dan upgrade bagi pendengar dan penikmat musik reggae. Jika yang di cangkok dalam attitude penggemar hanya Bob Marley sebagai pemakai ganja dan reggae sebagai iringannya saja, maka hanya sukses menjadi gerombolan yang tidak di sukai, menjadi buah bibir masyarakat dan musik ini akan dianggap berbahaya karena lifestyle para penggemarnya. Bersamaan dengan itu, Bob Marley bersama musik reggae adalah musik tentang jiwa pemberontak yang menginginkan sebuah kebebasan, bukanlah kebebasan tanpa batas maupun penindasan.

#bridgingcourse10

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: