Skip to content

SUGESTI TENTANG HUJAN IDENTIK DENGAN GALAU

Oktober 18, 2012

Kemarin sore saya melihat video clip sebuah band, yang menceritakan bahwa ada seorang pemuda yang sedang sedih karena pacarnya selingkuh dan kemudian pemuda itu berdiam diri di bawah derasnya hujan. Saya sangat heran mengapa hujan menjadi icon seseorang pada saat galau. Banyak pertanyaan di benak saya terhadap hal ini. Entah sejak kapan semua orang memaknai hujan bukan hanya sekedar perkara air yang turun dari langit. Bukan juga tentang berteduh di pertokoan apalagi menarik selimut untuk tidur karena cuaca yang dingin disebabkan hujan.

Salah satu teman kuliah saya sekarang takut dengan hujan, bukan takut karena basah melainkan takut teringat masalah yang sedang dia hadapi dengan pacarnya. Mengetahui perkataan dari teman saya, pertanyaan-pertanyaan baru kemudian timbul di benak saya, sejak kapan hujan menjadi waktu yang tepat untuk merenung. Bukannya semua waktu luang cocok untuk dijadikan waktu merenung. Terlintas di pikiran saya bahwa sinetron sangat berperan penting dalam mempengaruhi fenomena ini.

Fenomena ini tidak hanya menyerang teman-teman saya, saya pun juga pernah merasakan hal tersebut. Hujan justru memberikan kesan damai di hati pada saat saya tertimpa sebuah masalah.

Berikut adalah sebuah kisah yang menggambarkan hujan selalu identik dengan galau. Sebenarnya ini adalah kisah percintaan teman saya, dan teman saya bersedia untuk berbagi cerita dengan saya kemudian saya mencoba menerjemahkan bahasanya ke bahasa cerpen.

Hujan dan gemuruh, dua hal yang kali ini tak dapat terpisahkan. Dua hal tersebut seolah mengisi kekosongan kertas di hadapan ku sekaligus hati ini. Kosong yang tak sepenuh-nya kosong, samar ada guratan kelam di sana. Entah untuk dihapus dan dihilangkan atau untuk disimpan dan kemudian kembali diperjelas. Dari sudut kamar ini terlihat jelas ketika mendung mulai mengeluarkan bulir – bulir air yang siap membuai tanah dengan kedatangannya yang menyenjukkan. Perlahan ku hirup aroma hujan yang bergerak masuk dari jendela kamar ku, yang ku biarkan terbuka. Terpejam dan ku biarkan segala sesuatu pada diri ku terbuai. Bersama nyanyian hujan yang samar pun seolah sedang bercerita, tentang sebuah metamorfosa.

Oktober 2010, berontak dari perbedaan yang mungkin telah membuatmu letih untuk mencoba mengerti. Sekaligus membuat benci pun menggantung di langit – langit pikiran mu. Helaan nafas panjang mu menggantung, “Aku nggak bisa terusin hubungan ini..” lirih ucap mu, tetapi nyawa dalam kalimat tersebut berteriak lantang. Aku masih mematung, pemberontakan ini seolah menghidupkan sebuah mesin yang memburaikan hati ku menjadi butiran – butiran air. Ku tarik nafas dalam – dalam, “Maaf, aku nggak pernah ada maksud buat kamu merasa dituduh atau pun tertuduh ..”. “Ini bukan hanya karena persoalan kemarin, tapi memang terlalu banyak hal yang mulai berbeda..” potongnya cepat. ”Dan aku nggak mau melihat kamu makin terbebani dengan perbedaan ini, begitu pun aku..” . Dia menghela nafas untuk kesekian kalinya dan kembali terdiam menunggu reaksi ku. Pikir ku, justru pemberontakannya kali ini dengan alasan agar aku tidak terbebani menjadi sebuah ucapan klasik yang menyakitkan. Lama aku terdiam dengan gemuruh memenuhi batin ini. Tanpa banyak berbasa – basi, berusaha ku ucapkan dengan tenang, “Baiklah kalau memang menurut kamu itu yang terbaik, semoga memang itu yang terbaik.”. Deru sendu perpisahan yang klasik ini pun mulai menggema, perpisahan tanpa basa – basi yang justru terlihat basi dipikiran ku menyisahkan pedih.

Oktober 2011. Ku saksikan hujan tanpa gemuruh, hanya ada rintik bisu memutar memori setahun silam. Batin ku sibuk berceloteh “ketika dahulu ada, kepada hujan kita sembunyikan gelak tawa yang menyatukan kita. Kini, kepada hujan pula ku sembunyikan tangis kehilangan akan rupa yang tak dapat terjamah..”. Sore itu saat senja sedang pucat, ku ingat hari Rabu, tanggal 24 juli 2011, kenyataan memperlihat kan aku bahwa kamu telah menemukan seseorang yang lebih baik dimata mu. Rasanya seperti terhempas keberibu sudut hingga tubuh ku tercabik, ketika ku dapati kau menemukan tangan lain untuk kau genggam. Hanya helaan nafas yang mampu keluar dari mulut ini, dari sana ku putuskan untuk membawa pergi kepedihan ini dari sesuatu tentang kamu. Ketika hujan berhenti dan meredam gemuruhnya, ku lihat bias wajah mu di antara kenangan yang telah memudar. Di waktu itu pula, kelopak – kelopak ketegaran ku merekah, saat bulir hujan menyentuh tiap lekukannya. Dengan mantap aku tutup cerita ini, aku biarkan hujan menyimpannya dengan erat. Sebuah perbedaan klasik, pemberontakan menyakitkan, kepedihan perpisahan, menjelma dengan indahnya menjadi ketegaran. Serupa awan baru yang muncul setelah hujan, cerah tanpa kelabu, tenang tanpa gemuruh. Ini lah, metamorfosa ku dalam hujan. “Dan aku kan hilang, Ku kan jadi Hujan. Tapi takkan lama, ku kan jadi awan”.

Dari semua hal yang menyangkutkan tentang hujan dan galau, serta kisah dari teman saya dia atas. Saya menyimpulkan bahwa pengaruh sinetron maupun media saat ini untuk memberikan sugesti tentang hujan berarti galau sudah melekat di setiap karakter masyarakat saat ini.

#bridgingcourse09

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: