Skip to content

TOUR SOLO YANG SINGKAT NAN BERMANFAAT

Pada tanggal 2 Mei 2013, saya dan teman-teman kampus melakukan kunjungan ke Solo dalam rangka study tour yang diadakan oleh salah satu mata kuliah Sejarah Ilmu Komunikasi dan Media. Berangkat pada pukul 08.00 WIB menggunakan 2 unit bus. Perjalanan terasa begitu menyenangkan karena petikan gitar yang dimainkan oleh salah seorang teman saya begitu membangkitkan semangat walaupun macet menghadang perjalanan kami sehingga mengakibatkan waktu tempuh perjalanan ini menjadi sedikit melampaui waktu normal. Pukul 10.30 WIB kami tiba di Solo, destinasi pertama dari perjalanan kami adalah Lokananta. Lokananta adalah studio rekaman pertama yang berdiri di Indonesia. Lokananta sendiri memiliki makna gamelan di Suralaya yang berbunyi tanpa penabuh. Di Lokananta kami melakukan diskusi umum untuk mencari tahu sejarah dan apa saja yang ada dalam studio rekaman legendaris ini. Lokananta sudah berdiri dan tidak berpindah tempat sejak 29 Oktober 1956. Lokananta awalnya bagian dari Jawatan RRI, yang bertugas memproduksi piringan hitam guna bahan siaran RRI di seluruh Indonesia. Kini Lokananta menjadi salah satu cabang dari Perum Percetakan Negara. Visi dari Lokananta sebenarnya adalah untuk penyebaran budaya. Lokananta sampai sekarang masih mempunyai koleksi ribuan lagu-lagu daerah dari seluruh Indonesia dan lagu-lagu pop lama termasuk di antaranya lagu-lagu keroncong. Selain itu Lokananta mempunyai koleksi lebih dari 5.000 lagu rekaman daerah bahkan rekaman pidato-pidato kenegaraan Presiden Soekarno. `Pada tahun 1990 Lokananta mengalami kemunduran karena maraknya pembajakan, sekitar 150 an karyawan dari Lokananta di PHK karena tidak ada dana operasional untuk memenuhi kebutuhan karyawan-karyawannya. Bahkan sempat selama 6 bulan karyawan di Lonanta bekerja tanpa mendapatkan gaji. Saat itu kegiatan mereka hanya menjaga aset-aset Lokananta dan membersihkan piringan-piringan hitam bersejarah agar tidak rusak terkena debu. Sungguh sangat memprihatinkan keadaan pada waktu itu. Lokananta tidak mendapat dukungan dana yang memadai dari Pemerintah. Meski demikian kegiatan revording, penggandaan kaset dan remastering masih rutin dilakukan. Untuk bertahan hidup sekarang karyawan mengandalkan jasa rekam lagu-lagu lama, namun tentu saja tidak memadai hasilnya, upaya lain yang dilakukan seperti penyewaan lahan yang kosong kepada pihak luar, mereka sekarang menyewakan lokasinya untuk tempat futsal dan warung soto yang berada di dekat lokasi Lokananta itu sendiri. Hal itu dilakukan untuk menutup biaya operasional dan karyawan Lokananta. Musisi legendaris Indonesia seperti Gesang, Titik Puspa, Waldjinah, Ismail Marzuki, Bubi Chen, Jack Lesmana, Bing Slamet, Idris Sardi pernah melakukan proses rekaman di studio Lokananta. Ribuan master rekaman dari berbagai genre musik Indonesia mulai dari pop, keroncong, tradisional hingga jazz sejak tahun 1950-an hingga era 1980-an tersimpan di Lokananta. Kekayaan musik tradisional bahkan musik folklore ataupun lagu rakyat yang tidak diketahui penciptanya menjadi bagian koleksi Lokananta. Rekaman gending karawitan gubahan dalang kesohor Ki Narto Sabdo, dan karawitan Jawa Surakarta dan Yogya merupakan sebagian dari koleksi yang ada di Lokananta. Glend Fredly juga pernah menggunakan jasa dari Lokananta, selain itu band-band indie seperti Captain Jack dan Efek Rumah Kaca juga ikut andil dalam menggunakan jasa Lokananta, tentu biaya yang di keluarkan untuk band indie mendapatkan tarif yang berbeda daripada tarif untuk artis terkenal. Tour di Solo dilanjutkan ke sebuah tempat makan yang berada di sana. Tempat makan yang dipilih adalah Taman Sari. Teman-teman seakan kesetanan pada saat mengambil makanan yang sudah dihidangkan. Porsi ekstra diambil oleh sebagian besar teman-teman saya karena mereka sangat kelaparan. Destinasi selanjutnya adalah Monumen Pers. Gedung Monumen Pers Nasional yang terletak di Jl. Gajah Mada No. 29 Solo mempunyai cerita sejarah sendiri. Menurut cerita Ibu saya, sebelum menjadi Monumen Pers gedung ini berfungsi sebagai kantor PMI. Di gedung ini pula organisasi profesi kewartanan dibentuk dengan nama PWI ( Persatuan Wartawan Indonesia), pada tanggal 9 Pebruari 1946. Dan di kemudian hari tanggal tersebut ditetepkan sebagai Hari Pers Nasional. Pada awalnya, gedung ini dibangun atas gagasan KGPAA Sri Mangkunegoro VII ( 1918 ) dan dipergunakan untuk gedung pertemuan. Di gedung ini pula pernah menjadi markas besar Palang Merah Indonesia, baru pada tanggal 9 Pebruari 1946, diadakan konferensi wartawan pejuang kemerdekaan Indonesia, yang melahirkan organisasi PWI dengan Mr. Soemanang sebagai ketuanya. Pada peringatan satu (1) dasawarsa PWI, tepatnya pada tanggal 9 Pebruari 1956 kembali muncul ide untuk mendirikan Yayasan Museum Pers Indonesia. Adapun pencetus ide tersebut adalah antara lain B.M Diah, S. Tahsin dan Rosihan Anwar dan pengurusnya adalah R.P Hendro, Kaidono, Sawarno Prodjodikoro, Mr. Soelistyo dan Soebekti dengan modal utama koleksi buku dan majalah milik Soedarjo Tjokrosisworo. Pada saat konggres di Palembang sekitar tahun 1970 baru muncul gagasan untuk mendirikan ” Monumen Pers Nasional”. Dalam peringatan seperempat abad PWI ( 9 Pebruari 1971), Menteri Penerangan Budiardjo menyatakan pendirian Museum Pers Nasional di Solo. Kemudian pada tanggal 31 Desember 1977 tanah dan gedung “societeit” tersebut diserahkan kepada panitia pembangunan Monumen Pers Nasional di bawah Departemen Penerangan RI. Dan atas prakarsa Menteri Penerangan waktu itu, Ali Moetopo yang mendapat dukungan dari Asosiasi Importir Film Kelompok Eropa-AMerika, maka terwujudlah gedung Monumen Pers Nasional yang terdiri dari dua ( 2 ) unit bangunan dengan dua ( 2 ) lantai, dan satu ( 1 ) unit bangunan dengan empat (4) lantai. Baru pada tanggal 9 Pebruari 1978 Presiden Suharto meresmikan gedung tersebut yang dipercayakan kepada Yayasan Pengelola Sarana Pers Nasional untuk mengatur dan mengorganisir fungsi dan pemeliharaan sarana prasaranya. Di dalam museum Monumen Pers Nasional, banyak sekali dokumen-dokumen penting dari jaman penjajahan Belanda, Jepang sampai kemerdekaan Indonesia, mulai dari naskah sampau buku-buku yang jumlahnya lebih dari seribu (1000). Selain itu, di museum ini ada pula alat-alat pers kuno, pemancar radio, koleksi foto bahkan koran dan baju wartawan yang meninggal saat mencari berita juga ada. Misi dari Monumen Pers Nasional itu sendiri adalah mendokumentasikan serta mengkonversi bukti terbit media dan benda bersejarah lingkup pers dari seluruh Indonesia sejak sebelum proklamasi hingga saat ini, mengkomunikasikan dokumen dan koleksi pers nasional yang bernilai sejarah kepada khalayak umum untuk menunjang pembangunan jiwa dan kepribadian bangsa serta mewujudkan objek kunjungan wisata ilmiah bidang pers dan menjadi agen diseminasi serta sebagai media literasi bagi masyarakat. Setelah berkunjung di Monumen pers, tujuan selanjutnya adalah Festival Film Solo di ISI. Hanya kebagian menonton film terakhir yang berjudul ‘Damn it V’ . Film ini sedikit bergenre komedi sebenarnya, karena komedi yang ditampilkan sangat mengundang tawa dari penonton. Sebenarnya ada 3 film yang sedang dilombakan. Namun karena kita mendatang festival ini sudah sangat telat alhasil hanya 1 film yang bisa kami nikmati. Pukul 05.30 rombongan kami meninggalkan kota Solo. Wajah-wajah lelah sudah terlihat sebelum perjalanan pulang. Tetapi itu tidak mengurangi semangat teman-teman, walaupun lelah mereka tetap bernyanyi sepanjang perjalanan pulang itu. Lelah tetapi bahagia, itulah yang mereka rasakan. Berbeda dengan mereka saya memilih untuk tidur di sepanjang perjalanan. Letih sangat saya rasakan di badan saya sehingga tidur menjadi pilihan saya daripada ikut bernyanyi dengan teman-teman. Perjalanan tour ke Solo ini memang bermanfaat bagi kami karena dapat mengetahui sejarah-sejarah media yang berada di Indonesia. Perjalanan yang terasa singkat namun banyak sekali manfaatnya.

PROPAGANDA DALAM FILM THE FINAL PROPHECY

 

National Geography; 2012 The Final Prophecy, film yang dirilis 10 Januari 2011 ini adalah film produksi National Geography yang menceritakan scenario kiamat versi suku Maya dengan ahli geologi muda. Film berdurasi satu setengah jam ini menelusuri empat benua dan memberikan penjelasan ilmiah yang dramatis mengenai apa yang akan terjadi pada akhir tahun 2012.

Dalam film ini menceritakan delapan ratus tahun yang lalu, ramalan suku Maya memprediksikan Perang Dunia I, yang memunculkan Adolf Hitler. Kemudian meramalkan tsunami pada Desember 2006 yang menghancurkan Asia Tenggara. Pada 21 Desember 2012, suku Maya memprediksikan bencana alam yang tidak terduga yang akan menghancurkan dan memusnahkan alam semesta. Geologis Princeton, Dr Adam Maloof yang meneliti ramalan Maya kuno sebagai modern scientific. Dalam film ini juga dimunculkan wawancara dengan ilmuan geologi, antropologi dan astronomi yang akan meyakinkan sudut pandang dengan dengan penjelasan ilmiah yang dramatis tentang apa yang mungkin terjadi di akhir tahun 2012.

Saya tidak menemukan apapun yang menurut saya masuk akal dalam penjelasan yang terlalu dramatis dalam film ini. Film ini tidak cocok sebagai pendekatan, metode ilmiah, ataupun sebagai subjek yang historis. Dalam film ini, terlihat dalam penelitian, wawancara, serta ‘bukti’, tidak relevan karena semua hal tersebut merujuk pada orang-orang dan sumber-sumber yang mengatakan hal serupa. Hal ini terlihat seperti propaganda yang dilakukan para ilmuan. Banyak pemuka agama yang mati-matian membuktikan bahwa kitab lebih akurat dan lebih absolut dari ramalan suku Maya.

Apa yang disebut sebagai ‘ilmu’ dalam film tersebut terlihat menggelikan dan cenderung mengada-ada. Banyak catatan yang mengatakan bahwa sebenarnya ramalan suku Maya pada tahun 2012 bukanlah akhir dari dunia, melainkan hanya akhir dari kalender suku Maya, seperti tahun baru bagi suku Maya. Tanggal 21 pada ramalan suku Maya yang diungkapkan para ilmuan tersebut juga merupakan hal yang meragukan, beberapa sumber mengungkapkan bahwa akhir kalender suku Maya adalah tanggal 12 Desember, para ilmuan memanipulasi penanggalan menjadi tanggal 21. Perubahan tanggal ini dilakukan untuk mendukung teori para ilmuan, dasarnya adalah tanggal 21 Desember bertepatan dengan hari Jumat, sehingga memanipulasi teori salah satu agama bahwa akhir dunia bertepatan dengan hari Jumat.

Film ini juga berpengaruh terhadap pandangan masyarakat. Film ini menumbuhkan paradigma baru di maysarakat tentang scenario akhir dunia yang dramatis. Masyarakat terlalu percaya dengan teori para ilmuan tentang ramalan suku Maya kuno sehingga paranoid yang berlebihan juga tumbuh di kalangan masyarakat, hal ini cukup mengganggu psikologi manusia karena ketakutan berlebihan yang akibat film ini.

Kebenaran tentang ramalan kuno memang sudah menjadi perdebatan selama berabad-abad dan ramalan ini yang paling kontroversial saat ini. Penelitian ramalan ini memang banyak membuktikan banyaknya perubahan global yang ekstrim dan menakutkan. Kemudian bukti statistic mengejutkan yang menumbuhkan sikap skeptic terhadap Kitab-kitab Tuhan. Semua yang disajikan dalam film ini terlalu melebih-lebihkan sehingga dipandang tidak realistis dan terlihat sebagai propaganda para ilmuan dalam penelitian untuk kepentingan masing-masing. Jadi menurut saya, film ini hanya merupakan propaganda dari ‘aktor’ di balik layar film tersebut yang kemudian menimbulkan isu-isu negatif serta perdebatan bagi masyarakat. Sebagai manusia yang beriman, sudah seharusnya bisa membentengi diri dengan hal-hal berbau isu global seperti film tersebut.

#bridgingcourse13

Kurang Sejahteranya Masyarakat di dalam Negeri yang Kaya

 

Indonesia adalah negara yang memiliki sumber daya alam dan keindahan yang luar biasa dibandingkan dengan negara lain. Memiliki hasil tambang yang cukup banyak, seperti minyak dan batu bara. Indonesia dikenal pula sebagai negara kepulauan terbesar, hal ini sudah pasti menyebabkan Indonesia memiliki banyak pantai – pantai dan pulau – pulau kecil nan indah yang sudah dikenal di manca negara. Hasil lautnya pun juga melimpah, dengan keindahan alam yang berada di dasar lautan. Letak indonesia juga dapat dikatakan sangat strategis, karena dihimpit oleh dua samudra dan dua benua. Indonesia juga terletak di kawasan tropik yang memiliki curah hujan yang cukup tinggi yang menyebabkan Indonesia memiliki berbagai macam keanekaragaman tumbuhan. Salah satu hal yang tak kalah penting dari Indonesia adalah hutan – hutan yang berada di Indonesia yang menjadi paru – paru dunia. Kebudayaan yang berada di Indonsia juga merupakan salah satu kekayaan yang dimiliki oleh Indonesia. Karena Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kebudayaan yang paling beraneka ragam.

Tetapi dengan segala potensi dan kekayaan yang dimiliki oleh Indonesia, masih saja rakyat dalam negeri yang kaya raya ini kurang terjamin kesejahteraannya. Banyak masyarakat usia produktif menjadi pengangguran, kemiskinan di mana – mana, angka harapan hidup yang tidak terlalu tinggi, gelandangan dan pengemis yang selalu mewarnai jalanan – jalanan di setiap sudut kota, rumah – rumah kumuh di pinggiran sungai dan rel kereta api, dengan banyaknya tempat tinggal yang tak nyaman dan tak layak huni.

Kurang sejahteranya rakyat Indonesia banyak terjadi oleh faktor – faktor tertentu. Banyaknya anak – anak yang putus sekolah akan melahirkan sumber daya manusia yang kurang bermutu, menyebabkan terjadinya pengangguran di mana – mana. Pemerintah yang menyediakan biaya pendidikan untuk masyarakat kurang mampu pun tidak terlalu membantu. Bantuan pemerintah tersebut kadang kala tidak tepat sasaran yang dituju. Sebagian lagi masyarakatnya terlalu solid. Solid dalam artian mereka lebih memilih saling tolong menolong dalam bekerja dan memutuskan untuk berhenti bersekolah untuk membantu kedua orang tuanya mencari nafkah. Dengan banyaknya anak yang putus dan tidak bersekolah menyebabkan kurang majunya pandangan mereka terhadap masa depan. Dengan kurangnya wawasan dan pandangan masyarakat akan masa depan, menyebabkan banyak terjadinya pernikahan diusia muda yang banyak terjadi terutama di daerah – daerah pedesaan. Mereka lebih memilih menikah dan memiliki keluarga daripada melanjutkan pendidikan mereka. Hal ini sering sekali terjadi di daerah – daerah pelosok desa.

Dengan adanya pernikahan dini tersebut, tentu saja akan mengakibatkan seseorang yang seharusnya menempuh pendidikan, melah harus mengurusi keluarga dan anaknya. Hal ini tentu saja akan mengakibatkan pertumbuhan penduduk di Indonesia bertumbuh semakin pesat. Tak hanya itu, tumbuh pesatnya jumlah rakyat di Indonesia juga disebabkan karena masih ada saja masyarakat di Indonesia yang memegang prinsip “ banyak anak, banyak rejeki”.  Padahal tentu saja pandangan tersebut bisa dikatakan sebagai pandangan yang salah kaprah. Akibatnya, masyarakat yang tidak melakukan KB ( keluarga berencana) pun mengambil peranan yang besar dalam pertumbuhan jumlah masyarakat yang semakin lama semakin membludak. Yang tentu saja semakin banyak jumlah penduduk, akan membuat semakin sedikitnya  jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia. Sehingga mengakibatkan banyak penduduk Indonesia pada usia yang produktif hanya sebagai seorang pengangguran saja. Tak hanya sampai disitu permasalah yang ditimbulkan dari pandangan “ banyak anak banyak rejeki”. Tentu saja jika suatu keluarga yang memiliki jumlah keluarga yang besar akan mengakibatkan jumlah pengeluaran yang tidak sedikit pula. Hal ini akan menyebakan sebuah keluarga yang jauh dari kata sejahtera.

Faktor lain yang dapat dikatakan sebagai pemicu kurang sejahteranya rakyat Indonesia adalah kurangnya layanan kesehatan masyarakat yang disediakan oleh pemerintah. Dengan biaya kesehatan yang cukup melambung tinggi tentu saja sebagian masyarakat yang berpenghasilan rendah akan berfikir sekian kali untuk berobat ke rumah sakit. Adanya jamkesmas ( jaminan kesehatan masyarakat) pun terkadang juga tidak terlalu membantuk masyarakat yang miskin. Sebagai contoh, beberapa rumah sakit di Indonesia meminta uang pendaftaran / regestrasi terlebih dahulu sebelum melayani masyarakat yang tidak mampu. Bukankah hal tersebut tetap emberatkan rakyat miskin di Indonesia ini. Terkadang juga dengan kurang kepeduliannya rakyat itu sendiri akan kesehatannya dan lebih memilih untuk menebak – nebak sakit yang mereka derita menyebabkan hal yang lebih berbahaya. Seharusnya pemerintah lebih memfasilitasi srana kesehatan masyarakat dan dilakukan penyuluhan kepada masyarakat yang kurang tahu bahwa dengan memberikan obat – obatan yang sembarangan kepada tubuh mereka sendiri akan mengakibatkan hal yang cukup fatal.

Kurang sejahteranya masyarakat juga dapat disebabkan karena kurangnya sarana dan prasarana dan di derah kecil dan terpelosok yang disediakan oleh pemerintah. Sebagai contohnya adalah beberapa jalan – jalan utama di daerah Indonesia masih berupa tanah berlumpur yang susah dikendarai oleh kendaraan bermotor. Bukan hanya hal itu saja, kurangnya fasilitas yang menunjang informasi masyarakat di daerah – daerah tersebut membuat sebagian besar dari masyarakat – masyarakat tersebut buta akan informasi dan dunia yang berada di luar sana. Semakin terpencil daerhnya, semakin sedikit juga informasi yang mereka dapat. Padahal, dengan informasi semua hal yang belum pernah kita lihat pun dapat kita gambarkan. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi kehidupan masyarakat di sekitar daerah tersebut pada umumnya, yang akan berdampak pada kurang sejahteranya rakyat Indonesia.

Kurangnya SDM yang mendukung akan membuat negara Indonesia yang kaya ini pun tidak daat dikelola dengan baik. Padahal apabila suatu negara dengan potensi alamnya yang luar biasa dapat mengelolanya sendiri dengan baik, tentu saja rakyat di Indonesia pun akan mengalami perbaikan yang cukup signifikan juga. Contohnya sebagai negara yang memiliki kawasan perairan yang paling besar, tentu saja Indonesia memiliki jumlah hasil tangkapan laut yang tentunya tidak sedikit juga. Tapi pada kenyataanya keadaan masyarakatnya yang menjadi seorang nelayan pun hampir tak ada yang sejahtera, bahkan ada yang hidupnya sangat sederhana. Keadaan seperti inilah yang terkadang membuat hati miris. Disaat kekayaan di depan mata, tetapi tidak memiliki keahlian dalam mengelolanya, akan mengakibatkan  sedikitnya kekayaan dalam negeri sendiri yang dapat dinikmati.

Dan hal lain yang memiliki peranan yang sangat berpengaruh lainnya adalah banyaknya pejabat – pejabat negara yang terhormat melakukan hal yang tidak lebih terhormat dari seorang perampok, yaitu korupsi. Sebagai negara dengan jumlah koruptor yang tidak sedikit tentu saja akan berdampak langsung pada kesejahteraan rakyanya sendiri, rakyat Indonesia. Uang rakyat yang seharusnya digunakan dalam pembangunan fasilitas – fasilitas umum malah disalah gunakan sendiri. Inilah yang menyebabkan banyaknya masyarakat yang kurang merasakan fasilitas yang seharusnya menjadi milik mereka bersama. Tak mengherankan, apabila semakin banyak pejabat – pejabat pemerintahan yang korupsi maka semakin sengsaranya rakyat mereka. Dan hal ini lah yang sering dialami oleh Indonesia. Bagaimana rakyat akan sejahtera bila semua hak dan uang mereka malah digunakan secara pribadi oleh oknum – oknum yang tidak bertanggung jawab.

Seharusnya, jika ingin menjadi negara yang memiliki masyarakat yang sejahtera, maka benahi semua hal yang dapat menghambatnya. Tentu saja hal tersebut akan menjadikan tak hanya potensi negerinya saja yang kaya, tetapi juga rakyatnya yang sejahtera. Sedikit perubahan, akan sangat memberi dampak yang luar biasa.

#bridgingcourse12

SEDEKAH DARI PENGEMIS UNTUK SI KORUPTOR

Pada suatu hari pak jayus baru sarapan di rumahnya dengan menu yang sudah siap di meja makan, dia sepertinya tidak cocok dengan masakan buatan pembantunya tersebut.  Rasa kesalnya itu di ekspresikan dengan membuang makanan itu ke arah pembantunya, pak jayus menganggap masakan pemabantunya itu adalah makanan orang miskin. Dan perlu diketahui pembantunya masak sayur bayam dengan tempe saja. Pak Jayus lalu langsung meninggalkan rumahnya, bergegas berangkat ke kantor mengendarai mobil mewahnya.

Sementara itu, pak Joko beserta keluarganya sedang mengais sampah-sampah dari rumah ke rumah untuk mencari sisa makanan yang ada di sampah-sampah penghuni rumah kawasan mewah. Pak Joko pun putus asa lalu berniat untuk mengemis di lampu merah.

Pak Jayus dan sopirnya berencana membeli sarapan di suatu restoran mewah dekat kantornya, Pak Jayus bekerja di kantor pajak.  Bayarannya sebenarnya tidak terlalu besar nominalnya, tetapi dia mempunyai rumah mewah, mobil mewah dan banyak sertifikat tanah. Semua di dapatkan dengan cara berkorupsi selama dia bekerja di kantor pajak.

Pak Joko memutuskan mengemis di lampu merah kawasan perkantoran pajak. Setiap lampu lalu lintas sedang merah ia lalu mendatangi mobil-mobil yang erhenti di lampu merah untuk dimintai sedekah, kadang ada yang member dan kadang tidak.

Datanglah pak Jayus di lampu merah tersebut, karena ia memang akan bekerja di kantor pajak dekat lampu merah itu. Pak joko mendatangi mobil mewah sang koruptor itu, lalu dengan menegadahkan  tangannya pak joko meminta sedekah di mobil pak Jayus.

Bukan uang yang diterima oleh pak Joko namun malah caci maki dari pak Jayus yang diterima oleh pak Joko. Pak Jayus malah memamerkan pekerjaannya sebagai pegawai pajak dengan nada tinggi sambil matanya melotot ke arah pak Joko . Pak Jayus malah marah-marah dengan pak Joko, ia menganggap pak Joko orang yang malas tidak mau bekerja padahal pak Joko memang belum pernah sama sekali mengenyam pendidikan. Karena kesal  dengan cacian pak Jayus, pak joko malah  melempar uang hasil mengemisnya itu ke dalam mobil ke pak Jayus sambil berkata “ini sedekah dari saya pak,  anda ternyata lebih miskin dari saya” . Yang dimaksutkan miskin oleh pak Joko adalah miskin moral. Saat itu juga pak Jayus terkaget-kaget dengan perbuatan pengemis itu, lalu pak Jayus malah menagis tersedu-sedu karena teringat dengan dosa-dosanya selama ini. Ia lalu segera bertobat dan menyerahkan segala hartanya ke yayasan yatim piatu. Pak Jayus lalu menjadi lebih religious dari pada saat ia masih kaya.

#bridgingcourse11

THE FREEDOM-KNIGHT RISE (BOB MARLEY)

Rabu, 6 Februari 1945 di Kingston, Jamaica,  banyak orang melihat fenomena meteor jatuh, yang menurut keyakinan orang setempat merupakan pertanda bahwa akan lahir seorang tokoh besar. Benar saja, pukul 2.30 dini hari, malam itu Cendella seorang wanita native Jamaican istri dari pengawas tanah perusahaan Crown Land –milik pemerintahan inggris pada masa penjajahannya, Capt. Norval Sinclair Marley, melahirkan anak yang nantinya benar-benar menjadi orang besar. Tak sekedar orang besar saja, anak lelaki yang diberi nama Robert Nasta Marley ini lah yang akan memberikan influence yang besar terhadap sejarah musik dunia. Dia lah biang kerok dari berkembang pesatnya musik reggae di seluruh penjuru dunia serta yang di sebut sebagai King of Reggae, yaitu Bob Marley.

Nama besar Bob Marley berawal dari musik yang diusungnya, Reggae. Kata reggae sendiri berasal dari kata ragged, kata tersebut memiliki arti suatu gerakan menghentakan badan layaknya penggemar reggae yang sedang menikmati alunan musik tersebut.

Musik dengan tempo dan ketukan yang terputus-putus ini tumbuh dari musik yang sudah ada, yaitu Ska yang menjadi elemen style American Rhymes & Blues (R&B) dan musik Caribean[i]. Dengan tambahan pengaruh dari folk music (lagu-lagu rakyat setempat), musik dari gereja Pocomania, Band Jankanoo, upacara-upacara adat para petani, lagu kerja tanam, dan yang terakhir bentuk Mento. Pada akhirnya melahirkan musik yang luar biasa mulai tahun 1960an.

Pada masa awal kelahirannya, musik reagge merupakan bentuk penyampaian pesan yang diungkapkan melalui lirik lagu yang terkait dengan tradisi para penganut keyakinan Rastafarian. Awal mula musik reggae juga merupakan media untuk menyampaikan suara terkait permasalahan sosial, politik, humanistik maupun masalah yan bersifat universal pada masanya[ii]. Permasalahan itu seperti, penderitaan buruh paksa (gheto dweller), perbudakan di Babylon, Haile Selassie dan harapan kembalinya Afrika. Sehingga pada awalnya, musik reggae dapat dikatakan sebagai musik bagi para pemberontak.

Secara historial, pada dasarnya musik Afrika Jamaica ini selalu ada di kehidupan sehari-hari. Baik itu dijalan, bus, tempat umum, rumah, atau tempat bekerja, musik ini menjadi semacam penyemangat saat kondisi yang sulit dan dapat memberikan kekuatan dan pesan tersendiri bagi pendengarnya. Hasilnya, musik reggae tidak sekedar memberikan relaksasi, musik ini juga membawa pesan cinta, perdamaian, persatuan dan keseembangan sehingga dapat mengendurkan ketegangan[iii].

Sepak terjang Bob Marley di dunia reggae sebagai real artist and musician dapat di indikasikan oleh keberhasilannya mengusung musik reggae ke pentas dunia. Dalam musiknya, Bob Marley menambahkan tiga instrumen yang biasa digunakan pada musik Jazz, yaitu horn, saxophone, dan trumpet. Dari situ, Bob Marley melahirkan sub-genre dari reggae yang disebut dengan Roots Reggae[iv].

Secara sistematik dan tematik, sub-genre yang satu ini baik lirik maupun musiknya mendiskripsikan dan membicarakan masalah-masalah yang ada di perkampungan bangsa kulit hitam (ghetto). Lirik dari sub-genre Roots Reggae ini mengutarakan masalah kemiskinan, social issue, perlawanan kepada para rezim-rezim yang menindas rakyat pribumi, deportasi imigran dan filosofi dari keyakinan Rastafari. Bob Marley konsisten mengolah musik, pengaruh dan basic dari lirik lagunya, sehingga pendengar di seluruh dunia dapat menikmati musik reggae[v], sebuah budaya tradisional Jamaica melalui lirik-liriknya.

Bob Marley mampu menunjukan dan memperkenalkan jati diri melalui musik asli tanah kelahirannya. Ia menyuarakan aspirasinya kepada khalayak dunia, dan tak hanya sekedar menyampaikan saja, ia mampu membuat dunia menoleh kepadanya, mengapresiasi karya yang di ciptakannya, dan melihat serta mengambilnya sebagai gerakan perubahan. Idenya berkembang secara luas, tidak tertutup oleh idealismenya saja, tanpa harus terlepas dari akarnya dan menyuarakan sesuatu yang tidak murni dari hatinya.

Ide cemerlang dan brilian dari seorang Bob Marley tidak muncul begitu saja. Sebagai individu, ide cemerlang itu tumbuh dari proses yang ia alami selama hidupnya. Bob Marley yang notabene anak blasteran kulit putih dan negro, semenjak ia terlahir –bahkan ketika ibunya masih mengandungnya, ia harus mengalami kondisi yang memprihatinkan. Sejak kecil Bob Marley sering mendapatkan perlakuan rasis dari orang-orang di sekitarnya. Ia mendapatkan perlakuan rasis ini disebabkan oleh darah campuran yang mengalir dalam darahnya. Ketika sang ayah meninggal dunia, perlakuan rasis yang di terima Bob Marley pun semakin menjadi-jadi[vi].

Sepeninggal ayahnya, ia dan sang ibu ber-hijrah ke kota terbesar di Jamaica, Kingston Trenchtown, di situlah Bob Marley mulai belajar untuk mempertahankan dirinya. Ketika orang-orang menjadikannya sasaran sentimen rasial, Bob Marley pernah berkata, “My father was white, and my mother black, you know. They call me half-caste, or whatever. Well, me don’t dip on nobody’s side. Me don’t dip on the black man’s side or white man’s side. Me dip on God’s side, the one whoe created me cause me to come from black and white, Who give me this talent.”

“One love, one heart. Let’s get toghether and feel all right. Hear the children crying, one love. Hear the children crying, one heart. Sayin, give thank’s and praise to the Lord and I will fell all right. Sayin, let’s get togheter and feel all right.”

Lahirlah lirik tersebut, salah satu lagu dari Bob Marley yang berjudul One Love, People Get Ready. Serba salah memang, Bob Marley ditolak di kalangan kulit hitam karena dianggap putih, namun di kalangan orang kulit putih Bob Marley dihina karena dirinya dianggap hitam. Akhirnya Bob Marley merefleksikan kehidupan pahitnya semasa kecil hingga beranjak remaja, dan kemudian merangkul seluruh dunia untuk senantiasa menyimak kesamaan dan menapikkan adanya perbedaan. Apresiasi yang ditujukan kepada materi-materi yang disuguhkan Bob Marley dapat menjadi tolak ukur sebuah pembeda sesuai konsensus universal yang logis[vii].

Tidak sekedar musik saja, raggae kemudian melahirkan elemen-elemen yang dianggap tidak dapat dipisahkan dari musik ini. Seperti yang dicerminkan oleh Bob Marley sendiri, yaitu kaum Rastafarian; penggunaan warna merah, kuning/emas, rambut gimbal, dan ganja. Keyakinan dan gerakan Rastafarian adalah gerakan agama batu yang mengakui Haile Selasie I –bekas kaisar Ethiopia, sebagai Raja dari segala raja. Gerakan ini muncul atas aspirasi sosial dan politik kulit hitam, yang visi politik dan budayanya ikut menolong menciptakan suatu pandangan dunia yang baru.

Bagi beberapa kalangan, lambang memiliki arti yang mendalam karena merefleksikan sesuatu kepada yang melihatnya[viii]. Sejumlah pakar Ethiopia menyatakan bahwa penggunaan warna merah, kuning/emas, dan hijau di lambangkan sebagai Sabuk Perawan Maria, dan ketiga warna ini sangat identik dengan kaum rastafari. Gerakan ini telah menjamur di berbagai tempat di dunia, penyebarannya melalui imigrasi dan peminatnya muncul akibat musik reggae –kususnya musik Bob Marley, yang telah di baptis dengan nama Berhane Selassie (Cahaya Tritunggal bagi para kaum rastafarian) oleh Gereja Ortodoks Ethiopia sebelum ia meninggal[ix].

Penggunaan cannabis atau ganja oleh Bob Marley serta musisi reggae lainnya juga banyak diikuti oleh para penikmat musik ini. Efek yang ditimbulkan akibat menghisap ganja memang sangat cocok dengan hentakan dan irama musik reggae. Bahkan anggapan bahwa penggunaan cannabis atau ganja adalah suatu ritual yang harus dilakukan oleh para penikmat musik Reggae.

Banyak orang yang memakai dan mengkonsumsi ganja sebagai bukti loyalitas dan menunjukan jati diri sebagai peorang pecinta musik reggae. Jelas bahwa perilaku tersebut tidak dapat dianggap benar, reggae dalam arti yang sebenarnya adalah musik penyampai perdamaian dan sebagai bintang dalam pembebasan dan perjuangan bangsa Afrika dari kolonialisme. Ber-ganja merupakan ritual yang digunakan oleh para kaum Rastafarian, Bob Marley lah yang seorang rastafarian, bukan reggae yang rasta.

Hampir sama seperti ganja, rambut gimbal atau model rambut acak-acakan yang biasa disebut dengan dreadlock ini juga menyebar berbarengan dengan musik reggae. Banyak penggemar Bob Marley yang meniru gaya rambut yang sudah ada sejak 2500 SM ini, karena terkena imbas banyaknya melihat karakter sang idola  atau voyeurisme. Seperti cannabis, dreadlock yang dicerminkan oleh Bob Marley juga merupakan bagian dari ajaran Rastafarian, bukan pengkulturan dari selebriti idolanya.

Wajar bila banyaknya salah kaprah yang terjadi di masyarakat sulit untuk diluruskan kembali. Bob Marley sudah menyebarkan virus reggae nya di seluruh belahan dunia bersama elemen- elemen yang sudah berurat akar di dalamnya; Rastafarian, Cannabis, dan Dreadlock. Sepanjang perjalanan hidup Bob Marley, ia berbicara tentang pengekangan dan penindasan politk; represi, wawasan tetang sesuatu yang ghaib (religius) dan juga tentang semua yang ada; metafisik, serta nilai seni; artistic, serta apa saja yang mengusiknya kemudian menjadikannya sebuah masterpiece melalui musik reggae nya.

“No Women No Cry” selamanya akan menciptakan senyum dari air mata seorang janda, “Exodus” akan selalu melahirkan kesatria, “Redemtion Song” selalu menjadi bukti emansipasi melawan segala penjajahan, “Waiting in Vaint” selalu memunculkan kegairahan, dan “One Love” akan selalu mendobrak segala pembeda dan batas-batas bagi kesatuan kemanusiaan di seluruh dunia[x].

Melalui musik reggae, Bob Marley bukan hanya sekedar musisi yang menyampaikan pesannya melalui harmoni yang ia ciptakan, ia juga menjadi seorang figur moral dan religius[xi]. Maka sisi kesejatian Bob Marley sebagai seniman dan figur moral itulah yang patut dijadikan refleksi dan upgrade bagi pendengar dan penikmat musik reggae. Jika yang di cangkok dalam attitude penggemar hanya Bob Marley sebagai pemakai ganja dan reggae sebagai iringannya saja, maka hanya sukses menjadi gerombolan yang tidak di sukai, menjadi buah bibir masyarakat dan musik ini akan dianggap berbahaya karena lifestyle para penggemarnya. Bersamaan dengan itu, Bob Marley bersama musik reggae adalah musik tentang jiwa pemberontak yang menginginkan sebuah kebebasan, bukanlah kebebasan tanpa batas maupun penindasan.

#bridgingcourse10

SUGESTI TENTANG HUJAN IDENTIK DENGAN GALAU

Kemarin sore saya melihat video clip sebuah band, yang menceritakan bahwa ada seorang pemuda yang sedang sedih karena pacarnya selingkuh dan kemudian pemuda itu berdiam diri di bawah derasnya hujan. Saya sangat heran mengapa hujan menjadi icon seseorang pada saat galau. Banyak pertanyaan di benak saya terhadap hal ini. Entah sejak kapan semua orang memaknai hujan bukan hanya sekedar perkara air yang turun dari langit. Bukan juga tentang berteduh di pertokoan apalagi menarik selimut untuk tidur karena cuaca yang dingin disebabkan hujan.

Salah satu teman kuliah saya sekarang takut dengan hujan, bukan takut karena basah melainkan takut teringat masalah yang sedang dia hadapi dengan pacarnya. Mengetahui perkataan dari teman saya, pertanyaan-pertanyaan baru kemudian timbul di benak saya, sejak kapan hujan menjadi waktu yang tepat untuk merenung. Bukannya semua waktu luang cocok untuk dijadikan waktu merenung. Terlintas di pikiran saya bahwa sinetron sangat berperan penting dalam mempengaruhi fenomena ini.

Fenomena ini tidak hanya menyerang teman-teman saya, saya pun juga pernah merasakan hal tersebut. Hujan justru memberikan kesan damai di hati pada saat saya tertimpa sebuah masalah.

Berikut adalah sebuah kisah yang menggambarkan hujan selalu identik dengan galau. Sebenarnya ini adalah kisah percintaan teman saya, dan teman saya bersedia untuk berbagi cerita dengan saya kemudian saya mencoba menerjemahkan bahasanya ke bahasa cerpen.

Hujan dan gemuruh, dua hal yang kali ini tak dapat terpisahkan. Dua hal tersebut seolah mengisi kekosongan kertas di hadapan ku sekaligus hati ini. Kosong yang tak sepenuh-nya kosong, samar ada guratan kelam di sana. Entah untuk dihapus dan dihilangkan atau untuk disimpan dan kemudian kembali diperjelas. Dari sudut kamar ini terlihat jelas ketika mendung mulai mengeluarkan bulir – bulir air yang siap membuai tanah dengan kedatangannya yang menyenjukkan. Perlahan ku hirup aroma hujan yang bergerak masuk dari jendela kamar ku, yang ku biarkan terbuka. Terpejam dan ku biarkan segala sesuatu pada diri ku terbuai. Bersama nyanyian hujan yang samar pun seolah sedang bercerita, tentang sebuah metamorfosa.

Oktober 2010, berontak dari perbedaan yang mungkin telah membuatmu letih untuk mencoba mengerti. Sekaligus membuat benci pun menggantung di langit – langit pikiran mu. Helaan nafas panjang mu menggantung, “Aku nggak bisa terusin hubungan ini..” lirih ucap mu, tetapi nyawa dalam kalimat tersebut berteriak lantang. Aku masih mematung, pemberontakan ini seolah menghidupkan sebuah mesin yang memburaikan hati ku menjadi butiran – butiran air. Ku tarik nafas dalam – dalam, “Maaf, aku nggak pernah ada maksud buat kamu merasa dituduh atau pun tertuduh ..”. “Ini bukan hanya karena persoalan kemarin, tapi memang terlalu banyak hal yang mulai berbeda..” potongnya cepat. ”Dan aku nggak mau melihat kamu makin terbebani dengan perbedaan ini, begitu pun aku..” . Dia menghela nafas untuk kesekian kalinya dan kembali terdiam menunggu reaksi ku. Pikir ku, justru pemberontakannya kali ini dengan alasan agar aku tidak terbebani menjadi sebuah ucapan klasik yang menyakitkan. Lama aku terdiam dengan gemuruh memenuhi batin ini. Tanpa banyak berbasa – basi, berusaha ku ucapkan dengan tenang, “Baiklah kalau memang menurut kamu itu yang terbaik, semoga memang itu yang terbaik.”. Deru sendu perpisahan yang klasik ini pun mulai menggema, perpisahan tanpa basa – basi yang justru terlihat basi dipikiran ku menyisahkan pedih.

Oktober 2011. Ku saksikan hujan tanpa gemuruh, hanya ada rintik bisu memutar memori setahun silam. Batin ku sibuk berceloteh “ketika dahulu ada, kepada hujan kita sembunyikan gelak tawa yang menyatukan kita. Kini, kepada hujan pula ku sembunyikan tangis kehilangan akan rupa yang tak dapat terjamah..”. Sore itu saat senja sedang pucat, ku ingat hari Rabu, tanggal 24 juli 2011, kenyataan memperlihat kan aku bahwa kamu telah menemukan seseorang yang lebih baik dimata mu. Rasanya seperti terhempas keberibu sudut hingga tubuh ku tercabik, ketika ku dapati kau menemukan tangan lain untuk kau genggam. Hanya helaan nafas yang mampu keluar dari mulut ini, dari sana ku putuskan untuk membawa pergi kepedihan ini dari sesuatu tentang kamu. Ketika hujan berhenti dan meredam gemuruhnya, ku lihat bias wajah mu di antara kenangan yang telah memudar. Di waktu itu pula, kelopak – kelopak ketegaran ku merekah, saat bulir hujan menyentuh tiap lekukannya. Dengan mantap aku tutup cerita ini, aku biarkan hujan menyimpannya dengan erat. Sebuah perbedaan klasik, pemberontakan menyakitkan, kepedihan perpisahan, menjelma dengan indahnya menjadi ketegaran. Serupa awan baru yang muncul setelah hujan, cerah tanpa kelabu, tenang tanpa gemuruh. Ini lah, metamorfosa ku dalam hujan. “Dan aku kan hilang, Ku kan jadi Hujan. Tapi takkan lama, ku kan jadi awan”.

Dari semua hal yang menyangkutkan tentang hujan dan galau, serta kisah dari teman saya dia atas. Saya menyimpulkan bahwa pengaruh sinetron maupun media saat ini untuk memberikan sugesti tentang hujan berarti galau sudah melekat di setiap karakter masyarakat saat ini.

#bridgingcourse09

SAAT NEW MEDIA MENJADI BUDAYA DAN KEBUTUHAN DI MASYARAKAT

New Media merupakan istilah baru pada 5 tahun terakhir yang menandai datangnya sebuah era baru yang disebut ERA DIGITAL. Apa itu digital? Kata Digital berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata digitus yang berarti jari jemari. Artinya jumlah jari-jemari manusia adalah 10, dan angka 10 terdiri dari angka 1 dan 0 , oleh karena itu Digital merupakan penggambaran dari suatu keadaan bilangan yang terdiri dari angka 0 dan 1 atau off dan on (bilangan biner). Semua sistem komputer menggunakan sistem digital yang ditandai dengan angka o dan 1 sebagai basis datanya yang biasa disebut juga dengan istilah Bit (Binary Digit).

System Digital adalah sebuah metode yang kompleks dan fleksibel sehingga sangat menolong umat manusia dalam segala bidang kehidupan. Teori Digital selalu berhubungan dengan konten yang mutahir menjadi sebuah sistem informasi . System Digital sebagai dasar atas lahirnya konten media yang didalamnya ada sistem informasi yang tak terbatas dan sekarang dikenal sebagai New Media. Dengan demikian Media Baru adalah konten yang terbentuk dari kreatifitas dan interaksi manusia dengan teknologi digital.

Budaya Teknologi dapat diartikan sebagai perilaku dan kebiasaan hidup masyarakat dalam pemanfaatan teknologi untuk mencapai tujuan dan makna kehidupan sehari-hari. Terbentuknya komunitas baru pengguna teknologi, sebagai akar lahirnya kultur baru dalam masyarakat. Tanpa disengajapun kita hidup sangat tergantung pada teknologi saat ini. Ketergantungan satu sama lain dalam sebuah komunitas sosial masyarakat, mengharuskan kita menyesuaikan diri. Jika dalam satu komunitas tertentu telah menggunakan teknologi sebagai solusi kehiduan mereka, mau tidak mau individu yang berhubungan dengan komunitas tersebut akan mengikutinya. Sebagai contoh bahwa setiap orang sangat mudah memiliki sebuah alat komunikasi yang disebut handphone, dimana dulu sekitar tahun 1995, Handphone (HP) merupakan alat mewah yang sulit dimiliki oleh setiap orang, karena selain harga mahal dan juga karena penggunaannya yang dianggap terlalu canggih, belum layak untuk dimilki setiap orang. Tetapi sejalan dengan waktu dan tuntutan komunikasi antar personal yang didorong juga oleh gaya hidup, maka alat ini (HP) telah menjadi alat yang hampir setiap orang di kota besar telah memilikinya.

Perilaku masyarakat menggunakan alat bantu telekomunikasi itu, menjadi kebiasaan bahkan telah menuju tingkat kebutuhan primer, artinya ketergantungan terhadap alat komunikasi ini sangat tinggi. Handphone yang diartikan juga sebagai telepon genggam, sekarang ini sudah tidak dipandang sebagai alat yang istimewa karena alasan gaya hidup. Alasan untuk memilikinya adalah untuk kepentingan bisnis, efesiensi dan efektifitas berkomunikasi.

Adanya aksesbilitas yang memadai untuk mengirim data dari provider kepada user, maka konten-konten media yang berisi informasi  dapat diakses secara online. Inilah bukti nyata yang tidak bisa dibendung oleh media cetak dan media elektronik, bahwasanya teknologi digital telah memasuki era Internet Protokol Based sehingga terjadilah konvergensi yang sangat drastis. Realita lainnya adalah, cara beriklan turut mengalami konfergensi, menjadi berubah karena masyarakat sudah berubah dalam memanfaatkan teknologi. Sekarang hampir semua orang memiliki telepon genggam (HP), telah merubah perilaku dan cara berkomunikasi dalam masyarakat awam menjadi masyarakat yang melek teknologi. Dari kebiasaan memakai telepon koin di pinggir jalan  sampai kepada mengirim surat via pos digantikan oleh SMS dan masih banyak contoh konkrit lainnya dala aplikasi transfer data dan video misalnya.

Akhirnya, masyarakat berharap bahwa teknologi adalah solusi bagi kehidupannya. Ketergantungan terhadap teknologi menjadi sangat tinggi karena penggabungan berbagai aplikasi yang bisa diinstal di dalam alat misalnya komputer atau Smartphone. Dulu ketika pertama sekali HP itu keluar aplikasinya masih sangat sederhana dan sangat terbatas, seputar voice dan SMS saja. Nyatanya sekarang ini, teknologi HP telah mengalami modifikasi yang luar biasa cepat, itu semua karena permintaan pasar, adanya kebutuhan dan peluang yang memungkinan untuk mengirim data dalam kapasitas yang cukup memadai. Perkembangan ini telah membuat industri telekomunikasi menjadi ramai dan mengalami perkembangan yang sangat pesat. Sehinggga industry telekomunikasi berlomba-lomba melakukan peningkatan fasilitas dan service seperti Iphone dan Android yang diusung oleh Samsung, semuanya dia sebut sebagai SMART PHONE. New Media telah menjadi lahan baru dalam dunia bisnis di era tahun 2010, didukung oleh pemahaman tentang keterbukaan, regulasi dan kebebasan berekspresi dengan kratif yang tak terbatas. Selain itu disebabkan juga oleh semakin meningkatnya pembangunan infrastuktur jaringan internet akses. Pembangunan konten juga harus dibarengi dengan meningkatnya kebutuhan dan permintaan masyrakat. Indonesia termasuk Negara yang sangat terlambat dalam membangun konten yang sesuai dengan kondisi social budaya. Justru konten dari luar seperti Amerika dan Eropa yang menguasainya. Sementara masyarakat kita belum siap menghadapinya.

Budaya Teknologi dalam media baru ini tidak bisa dibendung lagi, suka atau tidak suka masyarakat Indonesia harus dengan lapang dada menerimanya. Bagaimana mengantisipasinya pada generasi kita, diperlukan kemampuan daya cipta yang besar dari setiap individu. Misalnya edukasi pemakaian jejaring social seperti facebook, twiter dan lain-lain. Bagaimana agar kita mampu menciptakan sesuatu yang baru dan dapat mewariskannya kepada anak-cucu kelak. Daya cipta itu harus di simpan dalam suatu server dan bisa diakses dari jaman ke jaman oleh setiap generasi kita.

Dalam rangka memanfaatkan New Media, masyarakat dituntut agar mampu memahami apa itu teknologi yang mendukung proses penyampaian pesan (konten) kepada masyarakat. Proses edukasi penguasaan teknologi tersebut telah menciptakan masyarakat baru dalam kebiasaan yang baru, yaitu budaya teknologi yang mampu memahami apa itu arti media baru, apa gunanya dan apa efeknya bagi kehidupan manusia.

#bridgingcourse08